NOBAGA-BAGA ORGANIK
or

Jumat, 14 Juni 2013
Rabu, 29 Mei 2013
Berawal dari Pekarangan Rumahku (Persiapan Lahan)
BERAWAL DARI PEKARANGANKU
Persiapam Lahan
Lahan yang sempit bukan jadi masalah, peralatan yang terbatas pun tidak jadi masalah....
persiapan lahan yang dilakukan seminggu sebelum penanaman.
Karena tanah di sekitar rumah merupakan timbunan, maka banyak terdapat batu. Pasa saat pengolahan lahan perlu dilakukan pemisahan batu-batu tersebut.
KESIMPULAN DAN SARAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PETANI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Upaya
pemberdayaan masyarakat petani merupakan jalan yang masih panjang dan masih
penuh tantangan. Hanya dengan komitmen yang kuat dan keberpihakan yang tulus,
serta upaya yang sungguh-sungguh, pemberdayaan masyarakat petani dapat
diwujudkan. Terlebih dalam menghadapi tantangan di era globalisasi (yaitu
menuju usaha agrbisnis) membutuhkan komitmen yang kuat dari pemerinta, para
pelaku ekonomi, rakyat, lembaga pendidikan, organisasi profesi dan
organisasi-organisasi non emerintah lainny. Komitmen ini dapat diwujudkan dalam
bentuk mmberikan kepercayaan berkembangnya kemampuan-kemampuan lokal atas dasar
kebutuhan setempat (daerahnya sendiri)
Penguatan
peran serta masyarakat petani sebagai pelaku pembangunan, harus didorong seluas-luasnya
melalui program-program pendampingan menuju suatu kemandirian mereka. Disamping
itu pula, perlu pengembangan organisasi, ekonomi jaringan dan faktor-faktor
pendukung lainnya.
Dengan usaha pemberdayaan masyarakat
yang demikian, mudah-mudahan dapat membebaskan mereka dari kemiskinan dan
keterbelakangan untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Pemberdayaan terst
diupayakan melaaui peningkatan kapasitas SDM (Sumber Daya Manusia) agar dapat
bersaing memasuki pasar tenaga kerja dan kesempatan berusaha yang dapat
menciptakan dan meningkatkan pendapatan rumah tangga.
Proses pemberdayaan tersebut tidak
lagi menganut pola serapan, tetapi didesentralisasikan sesuai potensi dan
keragaman sumber daya wilayah. Demikian pula kesempatan berusaha tidak harus selalu
pada usaha tani padi (karena dengan luas lahan sempit tidak mungkin dapat
meningkatkan kesejahterannya), tetapi juga pada usaha tani non padi perlu
dikembangkan. Dalam kaitannya dengan itu, upaya peningkatan ketahanan pangan
tidak terlalu fokus pada pengembangan pertanian (dalam arti primer), tetapi
juga diarahkan pada sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing,
berkelanjutan, berkerakyatan dan tersesentralisasi.
B. Saran
1.
Pemberdayaan dalam pengembangan untuk meningkatkan
produktivitas dan daya saing, menggunakan teknologi yang berdasarkan spesifik
lokasi yang mempunyai keunggulan dalam kesesuaian dengan ekosistem setempat dan
memanfaatkan input yang tersedia di lokasi serta memperhatikan keseimbangan
lingkungan.
2.
Penyediaan fasilitas kepada masyarakat hendaknya tidak
terbatas pengadaan sarana produksi, tetapi dengan sarana pengembangan
agribisnis lain yang diperlukan seperti informasi pasar, peningkatan akses
terhadap pasar, permodalan serta pengembangan kerjasama kemitraan dengan
lembaga usaha lain.
Dengan tersedianya berbagai fasilitas yang dibutuhkan
petani tersebut diharapkan selain para petani dapt berusaha tani dengan baik
juga ada kepastian pemasaran hasil dengan harga yang menguntungkan, sehingga
selain ada peningkatan kesejahteraan petani juga timbul kegairahan dalam
mengembangkan usaha tani.
3.
Revitalisasi kelembagaan dan sistem ketahanan
masyarakat.
Selasa, 28 Mei 2013
Pembardayaan Masyarakat Petani BAB II
Bab
II.
PEMBAHASAN
A. Pemberdayaan
Masyarakat Petani Di Kabupaten Nias Selatan
Peberdayaan
masyarakat tidak lain adalah memberikan motivasi dan dorongann kepada
masyarakat agar mampu menggali potensi dirinya dan berani bertindak memperbaiki
kualitas hidupnya.
Pendekatan
pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan mengandung arti bahwa manusia
ditempatkan pada posisi pelaku dan penerima manfaat dari proses mencari solusi
dan meraih hasil pembangunan .
Konsep
pemberdayaan masyarakat secara mendasar berarti menempatkan masyarakat beserta
institusi-institusinya sebagai kekuatan dasar bagi pengembangan ekonomi,
politik, sosial dan budaya ; menghidupkan kembali berbagai pranata ekonomi
masyarakat untuk dihimpun dan diperkuat sehingga dapat berperan sebagai
lokomotif bagi kemajuan ekonomi. Ekonomi rakyat akan terbangun bila hubungan
sinergis dari berbagai pranata sosial dan ekonomi yanga ada di dalam masyarakat
dikembangkan ke arah terbentuknya jaringan ekonomi rakyat sehingga
kesejahteraan masyarakat khususnya petani dapat menningkat.
Kesejahteraan
petani pangan yang relatif rendah dan menurun saat ini akan sangat menentukan
prospek ketahanan pangan nasional. Kesejahteraan tersebut ditentukan oleh
berbagai faktor dan keterbatasan, diantaranya yang utama adalah :
1. Sebagian
petani miskin karena memang tidak memiliki faktor produktif apapun kecuali
tenaga kerjanya, dalam hal ini keterbatasan sumber daya manusia yang ada
(rendahnya kualitas pendidikan yang dimiliki petani pada umumnya) menjadi
masalah yang cukup rumit, disisi lain kemiskinan yang struktural menjadi akses
petani terhadap pendidikan sangat minim.
2. Luas
lahan petani sempit dan mendapat tekanan untuk terus terkonversi. Pada umumnya
petani di Indonesia rata-rata hanya memiliki kurang dari 1/3 hektar, jika
dilihat dari sisi produksi tentu saja dengan luas tanah semacam ini tidak dapat
digunakan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari bagi petani.
3. Terbatasnya
akses terhadap dukungan layanan pembiayaan, ketersediaan modal perlu
mendapatkan perhatian lebih oleh pemerintah. Pada umumnya permasalahan yang
paling mendasar yang dialami oleh petani adalah keterbatasan modal baik dalam
penyediaan pupuk atau benih.
4. Tidak
adanya atau terbatasnya akses terhadap informasi dan teknologi yang baik.
Petani di Kabupaten Nias Selatan kebanyakan masih mengolah tanah dengan cara
tradisional, hanya sebagian kecil saja yang sudah menggunakan teknologi
canggih. Tentu saja hasil produksinya sangat terbatas dan tidak bisa maksimal.
5. Infrasruktur
produksi (air, listrik, jalan, telekomunikasi) yang tidak memadai. Pertanian di
Indonesia, lebih khusus Kabupaten Nias Selatan masih berada di wilayah pedesaan
sehingga akses untuk mendapatkan sarana dan prasarana penunjang seperti air,
listrik, kondii jalan yang bagus dan telekomunikasi sangat terbatas.
6. Struktur
pasar yang tidak adil dan eksploitatif akibat posisi rebut-tawar yang sangat
lemah.
7. Ketidakampuan,
kelemahan dan ketidaktahuan petani itu sendiri.
Tanpa
penyelesaian yang mendasar dan komperhensif dalam berbagai aspek di atas,
kesejahteraan petani akan terancam dan ketahanan pangan akan sangat sulit dicapai.
Maka disinilah peranan pemberdayaan masyarakat oleh pemerintah harus dijadikan
sebagai perhatian utama demi terwujudnya ketahanan pangan karena ketahanan
pangan dapat terwujud dengan baik jika pengelolanya dimulai dari tatanan mikro,
mulai petani atau kelompok tani itu sendiri.
Kelompok
tani adalah kelembagaan masrakat petani yang sangat baik dalam proses
pemberdayaan ini. Untuk membentuk kelembagaan petani yang kokoh perlu disusun
suatu instrumen pemberdayaan kelompok tani. Instrumen pemberdayaan kelompok
tani yang perlu dipertimbangkan antara lain adalah :
a) Adanya
interest/kepentingan yang sama di antara petani dalam kelompok.
b) Adanya
jiwa kepemimpinan dari salah satu petani di dalam kelompok.
c) Adanya
kemampuan manajerial dari petani di dalam kelompok.
d) Adanya
komitmen dari petani untuk membentuk kelembagaan petani.
e) Adanya
saling kepercayaan di antara petani di dalam kelompok
Pemberdayaan
usaha tani dapat meliputi kegiatan memfasilitasi kelompok tani melalui bantuan
langsung masyarakat, seperti yang telah dilakukan selama beberapa tahun
terakhir ini oleh pemerintah pusat yang dikoordinir oleh pemerintah daerah
provinsi dan kabupaten, dalam lingkup Kementerian Pertanian Republik Indonesia,
adanya Bantuann Langsung Pupuk (BLP) baik pupuk anorganik maupun organik,
Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) khususnya komoditi pangan utama (Padi
Sawah, Padi Ladang, Jagung, Kedelai, Kacang Tanah). Adanya Bantuan Sosial
(Bansos) berupa pembiayaan dalam pengelolaan Sekolah Lapang Petani Tanaman
Terpadu (SLPTT) guna meningkatkan produktifitas dan produksi. Bansos dalam
membangun jaringan irigasi, jalan usaha tani, rumah kompos, dan lain-lain.
Bantuan Alat Mesin Pertanian, seperti handtraktor, penggilingan padi, dan lain
sebagainya. Keseluruhan bantuan ini diberikan kepada petani dalam kelembagaanya
sebagai kelompok tani.
B. Masyarakat
Petani di Kabupaten Nias Selatan menghadapi tantangan di era globalisasi
Adanya
krisis global saat ini juga semakin membuat krisis bertambah sulit. Banyak
kalangan yang memperkirakan kalau krisis perekonomian yang semakin kompleks ini
bisa mengarah kepada krisis pangan. Kelaparan akan menjadi ancaman yang akan
menmbuat kemiskinan massal. Sebelum krisis pangan terjadi, sejak jauh-jauh
hari, sudah banyak pemikir maupun praktisi yang mati-matian menggodok
kebijakan-kebijakan maupun sekedar subangan pemikiran untuk mengantisipasinya.
Di negara kita,
kesulitan dalam penyeimbangan neraca pangan sudah dialami sebelum awal krisis
moneter yang terjadi pada pertengahan tahun 1997. Bahkan, pemenuhan kebutuhan
beras yang pernah diatasi secara swasembada pada tahun 1986, sampai saat ini
ternyata tidak dapat dipertahankan. Di awal tahun 2000 kita bahkan dibanjiri
dengan beras yang diberitakan ilegal, sedangkan di awal tahun 2006 kita diramaikan
dengan keputusan pemerintah untuk mengimpor beras, yang dianggap tidak berpihak
kepada petani meskipun hal itu bukan merupakan issue baru dan disadari pula
bahwa petani kita pun merupakan konsumen beras. Bahkan pada tahun ini, kita
dirisaukan dengan impor benih padi yang konon tidak berjalan mulus pula sampai
ke tangan petani, padahal hasilnya diharapkan dapat mendongkrak produksi beras.
Makna terdalam era globalisasi dalam
struktur perekonomian adalah perdagangan bebas. Dalam perdagangan bebas berarti
ada persaingan. Dalam globalisasi tersebut yang akan bersaing adalah barang
sekunder, yaitu produk agroindustri di Indonesia bahan baku untuk industri tersedia, tetapi
yang menjadi kendala adalah penggunaan dan penguasaan teknologi modern yang
memperkuat agribisnis, atau penekanan
masalah yang dihadapi dalam era globalisasi adalah pada peningkatan SDM .
Berdasarkan hal di atas, maka arah
pengembangan pertanian kedepan adalah agribisnis, yaitu mengembangkan pertanian
dan agroindustri atau industri yang mengolah hasil pertanian dan jasa-jasa yang
menunjangnya. Pengembangan agribisnis di Indonesia merupakan tuntutan
perkembangan yang logis dan harus dilanjutkan sebagai wujud kesinambungan,
penganekaragaman dan pendalaman pembangunan pertanian selama ini. Pengembangan
agribisnis akan tetap relevan walau tercapai setinggi apapun kemajuan suatu
negara. Bahkan agribisnis akan menjadi andalan utama bagi suatu negara yang
masih sulit melepaskan ketergantungan pembangunan nasionalnya dari sektor
pertanian dan pedesaan seperti Indonesia.
Beberapa
alasan untuk memperkuat pilihan pada agribisnis, adalah :
1)
Tersedianya bahan baku
2)
Akan memperluas daya tampung tenaga kerja di sektor
pertanian dan pedesaan
3)
Pengembangan agribisnis dalam skala kecil lebih mudah
diarahkan untuk lebih bersahabat dengan lingkungan (daipada industri besar),
sehingga dapat menekan kerusakan lingkungan.
Dengan memperhatikan arah tantangan
pertanian yang seharusnya dikembangkan ke arah agribisnis, maka perlu mendapat
penekanan bahwa sasaran strategis
pemberdayaan masyarakat bukanlah sekedar
peningkatan pendapatan semata, malainkan juga sebagai upaya membangun
basis-basis ekonomi yang bertumpu pada kebutuhan masyarakat dan sumberdaya
lokal yang handal. Dalam kerangka tersebut, keberhasilan upaya pemberdayaan
masyarakat tidak hanya dapat dilihat dari meningkatnya pendapatan masayarakat
melainkan juga aspek-aspek penting dan mendasar lainnya.
Beberapa aspek penting yang perlu
mendapatkan perhatian dalam pemberdayaan masyarakat petani, antara lain :
1)
Pengembangan organisasi/kelompok masyarakat yang
dikembangkan dan berfungsi dalam mendinamisir kegiatan produktif masyarakat.
2)
Pengembangan jaringan strategis antar
kelompok/organisasi masyarakat yang terbentuk dan berperan dalam pengembangan
masyarakat tani asosiasi dari organisasi petani, baik dalam skala nasional,
wilayah, maupun lokal.
3)
Kemampuan kelompok tani dalam mengakses sumber-sumber
luar yang dapat mendukung pengembangan mereka, baik dalam bidang informasi
pasar, permodalan, serta teknologi dan manajemen, termasuk didalamnya kemampuan
lobi ekonomi. Di sinilah maka perlunya ekonomi jaringan dipembangkan. ekonomi
jaringan adalah suatu perekonomian yang menghimpun para pelaku ekomomi, baik
dari produsen, konsumen, service provider, equipment provider, cargo, dan sebagainya di dalam jaringan yang terhubung baik secara
elektronik maupun melalui berbagai forum usaha yang aktif dan dinamis.
4)
Pengembangan kemampuan-kemampuan teknis dan manajerial
kelompok-kelompok masyarakat, sehingga berbagai masalah teknis dan organisasi
dapat dipecahkan dengan baik. Di sini, selain masyarakat sasaran (petani), juga
para petugas penyuluh/pendamping pemberdayaan masyarakat harus meningkatkan
kompetensi diri sebagai petugas yang mampu memberdayakan, karena banyak
diantara mereka justru ketinggalan
kemampuannya dengan kelompok sasarannya.
Pemberdayaan Masyarakat Petani BAB I
Bab
I.
LATAR
BELAKANG
Petani merupakan bagian terbesar
produsen pangan dan produk-produk
pertanian lainnya, seharusnya memegang peran dan pelaksana utama pembangunan
pertanian di negara Indonesia yang agraris. Setelah kita melaksanakan
pembangunan pertanian selama lebig dari setengah abad, petani dan masyarakat
pedesaan masih dalam posisi yang marjinal dan memprihatinkan. Petani belum
ditempatkan sebagi subjek atau penentu keputusan kegiatan pembangunan
pertanian.
Kita
ketahui bersama bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar bagi manusiadan
merupakan unsur penting dalam menjamin keberlangsungan gpemenuhan kebutenerasi
bangsa ini. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan pangan pokok (salah satunya,
beras) menjadi suatu hal yang sangat strategis. Dalam hal ini, diperlukan
komitmen dan kesadaran yang tinggi sehingga upaya memenuhi kebutuhan pangan
bersumber dari paroduksi dalam negeri menjadi skala prioritas.
Adanya
krisis global saat ini juga semakin membuat krisis bertambah sulit. Banyak
kalangan yang memperkirakan kalau krisis perekonomian yang semakin kompleks ini
bisa mengarah kepada krisis pangan. Kelaparan akan menjadi ancaman yang akan
menmbuat kemiskinan massal. Sebelum krisis pangan terjadi, sejak jauh-jauh
hari, sudah banyak pemikir maupun praktisi yang mati-matian menggodok
kebijakan-kebijakan maupun sekedar subangan pemikiran untuk mengantisipasinya.
Menyikapi
hal tersebut dan memperhatikan kondisi perubahan iklim yang cenderung semakin
ekstrem, maka upaya pencapaian produksi harus mempertimbangkan kekuatan
cadangan pangan. Dalam direktifnya, tanggal 22 Januari 2011 yang lalu, Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono telah menetapkan sebuah komitmen ketersediaan pangan
pokok khususnya beras secara berkelanjutan, Indonesia harus mampumencapai
surplus produksi beras 10 juta ton pada tahun 2014.
Dalam
upaya peningkatan produksi secara berkelanjutan dan surplus 10 juta ton pada
tah 2014, kita memerlukan upaya kerja keras baik pimpinan pusat maupun pimpinan
daerah beserta aparatnya dan seluruh instani terkait dengan membimbing para
petani/kelompok tani di tingkat lapangan dalam mengakselerasi peningkatan
produksi komoditas tanaman pangan, khususnya beras.
Pembangunan
sektor pertanian terus digalakkan di Kabupaten Nias Selatan, seiring dengan
program pemerintah dalam mencapai ketersediaan pangan pokok secara
berkelanjutan. Di sisi lain peningkatan penduduk di Kabupaten Nias Selatanjuga
merupakan pemicu perlu ditingkatkannya pembangunan pertanian ini. Dari luasan
areal pertanaman Nias Selatan yang ± 200 ribu Ha, ada sekitar17068 Ha yang
dikelola oleh petani sebagai lahan
persawahan. Pada tahun 2011 produksi Padi Sawah Kabupaten Nias Selatan mencapai
56.931,2 ton. Demikian juga komoditi pangan pokok lainnya, seperti Jagung, Ubi
Kayu, Ubi Jalar dan Kacang Tanah, memeng dari tahun ke tahun tidak terlalu
mengalami peningkatan produkdi maupun produktifitas. Secara umum memang
produksi dan produktifitas hasil pertanian masih tergolong rendah dibandingkan
daerah lain, hal ini disebabkan karena pengolahan lahan dan hasil-hasil
pertanian masih dibatasi oleh kemampuan masyarakat petani dalam menyediakan
sarana dan prasarana, agroinput dan modal, sumber daya manusia pertanian yang
berkualitas belum memadai.
Kesejahteraan
petani pangan di Kabupaten Nias Selatan yang relatif rendah saat ini akan
sangat menentukan prospek ketahanan pangan nasional. Kesejahteraan tersebut
ditentukan oleh berbagai faktor dan keterbatasan, diantaranya adalah : sebagian
petani miskin karena memang tidak memiliki faktor produktif apapun kecuali
tenaga kerjanya, luas lahan petani sempit, terbatasnya akses terhadap dukungan
layanan pembiayaan, tidak adanya atau terbatasnya akses terhadap informasi dan teknologi,
infrastruktur produksi pertanian masih rendah.
A. Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
memberdayakan masyrakat tani di Kabupaten Nias Selatan
2. Bagaimana
masyrakat tani di Kabupaten Nias Selatan menghadapi tantangan Era Globalisasi.
B. Tujuan
Masalah
1. Untuk
mengetahui bahgaimana memberdayakan masyarakat tani di Kabupaten Nias Selatan.
2. Untuk
mengetahui bagaimana masyrakat tani di Kabupaten Nias Selatan menghadapi
tantangan Era Globalisasi.
Langganan:
Postingan (Atom)